Kalau engkau tak mampu menjadi beringin,
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya....
Bukan besar kecilnya tugas
yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu....
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
~Taufik Ismail~
Kamis, 07 Februari 2008
Kerendahan Hati
Diposting oleh --ReNa LatiFa-- di 04.50 0 komentar
Label: Puisi-Puisi
Jumat, 18 Januari 2008
Terima kasih, cinta!
Ah, apakah ini?
Sebuah senandung yang mengalun dalam hati dan pikiranku
Memberi sinar pada wajah, mengalir hangat dalam nadi
Inikah cinta, yang menghidupkan semangat?
Cinta membuat langkahku ringan
Mengayun menuju tempat kerja
Walau setumpuk tugas rumit di depan mata
Cinta memberiku damai dan sukacita
Aku cinta hidup ini,
Aku cinta masa depan yang sedang kurajut sekarang,
Aku cinta pada apa yang kulakukan saat ini,
Aku cinta menulis,
Aku cinta berada di antara mahasiswa-mahasiswa,
Aku cinta ....
Terima kasih, cinta.
--oleh: bnastiti dengan beberapa perubahan oleh saya--
Diposting oleh --ReNa LatiFa-- di 03.54 0 komentar
Label: Puisi-Puisi
Kamis, 20 Desember 2007
....daRi seBuah Blog....
Beberapa orang menghabiskan waktu pergi ke tanah suci
Berharap bertemu Tuhan atau suara kenabian
Tapi lalu pulang ke rumah dengan membawa amarah yang sama
Sebagian yang lain memilih untuk berperang
Dengan segala ingin menjadi pahlawan bagi ibu pertiwi
Namun justru mendapat kepahitan juga sumpah serapah
Tapi aku hanya ingin tidur di atas dadamu, manisku
Mendengar detak jantung yang berketuk teratur
Atau sekedar berlama-lama menghitung jumlah rambut halus di atas bibir mungilmu yang berbicara cepat
Kemudian mendapati beberapa bulu mata lentikmu jatuh di pipi yang bersemu merah
Beberapa orang mencari keindahan ke tempat-tempat terjauh di belahan bumi yang lain
Menikmati matahari terbenam di pucuk-pucuk Piramida Giza
Menyusuri Sungai Rhein yang syahdu
Atau memandang kota tua Konstantinopel membelah Eropa dan Asia dari ketinggian menara Hagia Sophia
Tapi aku hanya ingin berbicara membunuh waktu denganmu tentang hutan-hutan di pegunungan Leuser yang menipis
Atau mungkin juga mengenai salju di Puncak Jayawijaya yang menjadi air di sungai Memberamo
Atau, ah ya, juga tentang ketakutan para perempuan suku Anak Dalam di Jambi akan pohon-pohon yang tumbang
Lalu kemudian giliranmu bercerita tentang Nusa Tenggara dengan bukit tandusnya
Atau mungkin sekedar memandangmu yang bertutur kisah ke bumi Borneo yang lembab
Di teras rumahmu yang nyaman sambil ditemani anjing-anjingmu yang lucu
Ada yang pantas mendapati dirinya memperoleh hadiah Nobel karena mampu mengangkat harkat para perempuan miskin di Banglades
Atau mendapat anugerah Pritzker dengan ceceran karya dari New York hingga Berlin
Tapi aku sudah menjadi manusia bahagia ketika melihat diriku terpantul di retina matamu yang jernih, sayangku
*bY PrabhamWulung, 2007*
Diposting oleh --ReNa LatiFa-- di 22.49 0 komentar
Label: Puisi-Puisi
Rabu, 24 Oktober 2007
Da Memory Remain at da spotless mind
Diam
Diam
Diam
Aku diam
Dia diam
Kami diam
Entah apa maknanya
Tak mungkin bisa sistem syaraf ini saling menebak,
Jika tak ada kiriman sinyal huruf2 yang terpapar di monitor dan terkirim ke sensori visual
Sudah
Every beginning has an ending
He want it, so just give it
Erase the path
Switch off that eternal sunshine
Then Kerispatih Melantun...
"lebih baik jangan mencinta
biarku dan semua hatiku
....
semoga saja kan kau dapati
hati yang tulus mencintaimu
tapi bukan aku
....
ku tak ingin kau semakin kan terluka
tak inginku paksakan cinta ini
....
berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi....."
Diposting oleh --ReNa LatiFa-- di 09.15 0 komentar
Label: Puisi-Puisi
Selasa, 23 Oktober 2007
Do Not Love Me Forever, Pliis...
Robek saja hati ini sesukamu, dengan ketentuanMu Tuhan
Koyak saja sudut2 bahagia di dalamnya
Buatlah telaga bagi air mata ini, atau samudera jika telaga tak kan mampu menampungnya
Buatlah gelombang hantam sesukaMu, jika riak kecil tampak tak indah sebagai 'hiasan'
Sampai 'tanah' itu menginginkan ku 'kembali'.
Aku hanyalah abdiMu
Diposting oleh --ReNa LatiFa-- di 09.32 0 komentar
Label: Puisi-Puisi
Selasa, 16 Oktober 2007
Aku memang aneh!
Apanya yg aneh?
Siapa yg mengatakan aneh?
Di mana letak keanehannya?
Kapan dikatakan anehnya?
Mengapa bisa dikatakan aneh?
Bagaimana cara mengatakan ke-aneh-an-nya?
Berapa kali dikatakan aneh?
Semua. Aku yg tahu.
Lantas anehkah itu?
Hah, mungkin, bisa jadi, sepertinya, aku memang aneh!
Tapi pastinya, kalian yg lebih aneh! Membaca keanehanku.
Ha. Ha. Ha.
Diposting oleh --ReNa LatiFa-- di 12.31 1 komentar
Label: Puisi-Puisi
Jumat, 14 September 2007
SudAH LaMa TaK kUsaPa tuHan
Tuhan,
Katamu aku harus sabar,
Katamu aku harus tawakkal,
Jika ingin mencapai tempat tertinggi dan selamat di akhir nanti
Tuhan,
Tahukah Engkau bahwa tak ingin kucapai
tempat tertinggi milikMu itu !?
Sebab bukan itu tujuanku.
Tahukah Engkau bahwa bahkan
aku tak tahu di mana tempat tertinggiMu itu !?
Sebab Engkau tak pernah mengajakku.
Tahukah Engkau bahwa aku hanya ingin tak Kau coba
dengan cobaanMu yang berat-berat ini !? --Maaf, Tuhan, aku to the point! --
Tapi itu sama saja aku mengingkari kodrat kemanusiaanku.
Hah, aku tak tahu apa mauMu, Tuhan.
Sampai kita bertemu nanti,
akan kutanyakan
wahai Tuhan, yang sudah lama tak kusapa
Diposting oleh --ReNa LatiFa-- di 05.48 0 komentar
Label: Puisi-Puisi
Dialog SuNyi
aku lelah,
hatiku mati, hampir
beku, nyaris
tak ada lagi rongga bagi bersemainya bahagia.
Aku pergi,
sendiri.
Dalam gelap yang legam. Kelam.
Ingin kumenarik diri dari dunia nyata.
Tapi tak rela. Jangan!
Sudut hatiku yang lain, sayup-sayup berkata: ”ada mentari pagi di sana”
Diposting oleh --ReNa LatiFa-- di 05.46 0 komentar
Label: Puisi-Puisi

